19 Juni 2020 21:25:53
Ditulis oleh Agus S

PENERAPAN PROTOKOL KESEHATAN PENYELENGGARAAN SEDEKAH BUMI DESA SADANG TAHUN 2020

Sadang-jatirogo.desa.id – Sedekah bumi merupakan salah satu adat dari masyarakat khususnya di wilayah Pulau Jawa untuk mengucapkan dan melambangkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kelimpahan rezeki melalui hasil bumi yang berwujud segala macam hasil panen.

Ada banyak cara yang dilakukan masyarakat untuk melambangkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa tersebut. Sebagian masyarakat ada yang menyelenggarakan sedekah dengan membawa tumpeng dan hasil panen ke tempat yang dipercaya sebagai tempat keramat dan asal muasal leluhur desa. Sebagian lagi ada yang menyelenggarakan pagelaran kesenian berupa pagelaran sindir (Tayub), pagelaran wayang kulit, pagelaran ketoprak dan ada sebagian masyarakat yang menyelenggarakan pengajian dengan menghadirkan pembicara Kyai kondang dari luar Daerah.

Kegiatan adat sedekah bumi dengan menyelenggarakan beberapa kegiatan  itu berdasarkan adat dan kepercayaan yang sudah berlangsung secara turun temurun dari nenek moyang wilayah setempat. Masyarakat percaya bahwa sedekah bumi dapat memberikan efek positif bagi warga sekitar yang menyelenggarakan. Hasil panen yang melimpah dan terhindar dari malapetaka merupakan salah satu harapan yang dipercaya masyarakat dengan menyelenggarakan sedekah bumi.

Desa Sadang Kecamatan Jatirogo Kabupaten Tuban adalah salah satu Desa di Jawa Timur yang memegang teguh adat Sedekah Bumi. Setiap tahun setelah panen raya padi, Pemerintah Desa menyelenggarakan sedekah bumi dengan menyelenggarakan pagelaran wayang kulit. Pagelaran wayang ini diselenggarakan di punden (sumur) yang dipercaya sebagai tempat keramat dan asal muasal nenek moyang Desa Sadang.

Namun pada tahun 2020 ini Desa Sadang tidak dapat menyelenggarakan pagelaran Wayang Kulit seperti biasanya dikarenakan wabah Covid-19 yang melanda wilayah Jawa Timur dan Desa Sadang merupakan salah satu Desa yang terdampak dan berstatus menjadi zona merah.

Ada beberapa protokol kesehatan yang harus dijalankan oleh Pemerintah Desa Sadang untuk penyelenggaran wayang kulit. Protokol kesehatan tersebut sudah di Musyawarahkan bersama anngota BPD, Ketua RT dan RW, LPMD dan perwakilan tokoh masyarakat. Dalam Musyawarah tersebut disepakati bahwa pagelaran wayng kulit dalam situasi pandemi dapat tetap diselenggarakan dengan mematuhi beberapa aturan berikut :

  1. Pertunjukan wayang kulit diselenggarakan dalam waktu 30 menit sampai maksimal 60 menit.
  2. Apabila pertunjukan wayang kulit melebihi 60 menit maka Polsek Jatirogo berhak untuk membubarkannya.
  3. Dalam pertunjukan wayang tidak diperbolehkan ada warga yang bergerombol dan berkerumun untuk menyaksikan pertunjukan wayang, karena pertunjukan wayang kulit diselenggarakan secara tertutup dan hanya dihadiri oleh Perangkat Desa dan pihak-pihak yang terkait
  4. Warga yang ingin membawa tumpeng di punden diharapkan untuk menitipkan tumpengnya kepada Ketua RT dan Ketua RW setempat dan memberikan nama pada wadah tumpeng agar tidak tertukar
  5. Ketua RT dan Ketua RW mengkoordinir warga untuk mengumpulkan tumpeng dan membawa ke punden menggunakan kendaraan
  6. Seluruh perangkat desa dan Ketua RT maupun Ketua RW yang menghadiri sedekah bumi di punden diwajibkan untuk memakai masker
  7. Pada malam sebelum pelaksanaan sedekah bumi, warga dilarang berkumpul di punden untuk melakukan Melek’an (berkumpul untuk terjaga dan tidak tidur semalam suntuk)
  8. Seluruh pedagang dilarang berjualan diwilayah punden pada waktu pelaksanaan sedekah bumi
  9. Seluruh Perangkat Desa, BPD, Ketua RT dan Ketua RW diminta untuk saling bekerja sama untuk mensukseskan Sedekah Bumi Desa Sadang Tahun 2020 agar berjalan sesuai dengan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh Pemerintah

Dengan persyaratan protokol kesehatan yang diterapkan oleh Pemerintah Desa Sadang ini diharapkan kegiatan Sedekah Bumi Desa Sadang dapat berjalan dengan lancar dan khidmat tanpa melanggar Protokol Kesehatan guna mencegah persebaran Covid-19. (@gus_sung)



Kategori

Bagikan :

comments powered by Disqus