07 Juli 2019 06:34:55
Ditulis oleh Agus S

PAGELARAN WAYANG KULIT SIANG DAN MALAM DALAM RANGKA SEDEKAH BUMI DESA SADANG TAHUN 2019

Pagelaran wayang kulit sudah mendarah daging pada kebudayaan warga masyarakat Desa Sadang dalam rangka sedekah bumi atau manganan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pagelaran wayang kulit dalam rangka sedekah bumi pada siang hari diselenggarakan di Sumur Gede yang merupakan punden dan tempat yang dikeramatkan oleh warga Desa Sadang.

Adapun Dalang yang mementaskan wayang kulit pada siang hari adalah Ki Eko Yudhistiro dari sanggar Bayu Siwidodo. Mengambil lakon DEWI SRI SADONO yang menceritakan perjalanan Dewi Sri dan Raden Sadana yang mendapat kutukan dari ayah mereka hingga berubah menjadi ular sawa dan burung sriti. Ular sawa itu akhirnya teruwat kembali setelah ia melindungi bayi pasangan Kyai Wrigu dan Ken Sangki di Desa Wasutira. Kemudian Dewi Sri diangkat menjadi dewi pangan, sedangkan Raden Sadana diangkat menjadi dewa sandang. Ditya Mayangkara menyusup ke desa Sringawanti. Prabu Pulaswa di Kerajaan Medang Kumuwung dihadap Patih Kalasuba, Ditya Kalandaru, dan para punggawa raksasa.

Mereka membicarakan tentang Dewi Sri yang saat ini kabarnya telah mendirikan Desa Sringawanti di Hutan Medangagung bersama Raden Sadana. Untuk itu, Prabu Pulaswa mengirim Ditya Mayangkara, suami Dewi Wikayi (putri Batara Kalakeya) supaya berangkat menculik Dewi Sri. Ditya Mayangkara pun berangkat melaksanakan perintah rajanya. Sesampainya di Desa Sringawanti, ia mengubah wujudnya menjadi seekor sapi liar dan segera berbaur dengan kawanan ternak yang digembalakan Umbul Manggala.

Melihat jumlah ternaknya bertambah satu, Umbul Manggala sangat senang. Beberapa hari kemudian, ia berniat menyembelih sapi barunya itu sebagai hidangan selamatan. Sapi penjelmaan Ditya Mayangkara tersebut pun berontak ketika hendak disembelih dan mengamuk melukai Umbul Manggala beserta warga desa lainnya. Mendengar itu, Raden Sadana segera turun tangan membantu. Ia melepaskan panah ke arah si sapi liar yang mengubah.

Pagelaran wayang siang hari selesai pada pukul 17.00 WIB. Ki Dalang beserta anggota gamelan beristirahat di Balai Desa Sadang dan menikmati hidangan makan malam yang sudah di sediakan oleh Ibu-Ibu PKK Desa Sadang yang sudah menyiapkan hidangan sejak sore hari.

Pada malam hari sekira pukul 20.00WIB pagelaran wayang pun dilanjutkan dan bertempat di Lapangan Desa Sadang. Acara dibuka oleh sambutan dari Plh. Kepala Desa Sadang. Dalam sambutannya beliau menyampaikan agar masyarakat senantiasa menjaga kerukunan menjelang Pilkades yang akan dilaksanakan beberapa hari setelah sedekah bumi dilaksanakan. Beliau juga menyampaikan agar seluruh warga masyarakat Desa Sadang yang sudah mempunyai hak pilih dan sudah mendapatkan undangan Pilkades agar datang ke TPS masing-masing dan memberikan suaranya untuk mencoblos sesuai dengan pilihan masing-masing.

Pagelaran wayang kulit pada malam hari dibawakan oleh Ki Tri Bayu Santoso S,Sn (Ki TRIBASA) dari Sanggar Bayu Siwidodo yang mengambil lakon SEMAR MBANGUN GEDONG KENCONO. Kisah ini menceritakan Petruk yang datang ke kerajaan Amarta dan ingin meminjam Jamus Kalimasada sebagai sarana Semar harus membangun Karangkadempel. di pihak lain Kresna dan Baladewa (Perubahan wujud dari Dewaningrat dan Dewakahana) juga datang di Kerajaan Amarta untuk meminjam Jamus Kalimasada sebagai sarana membangun Dwarawati. petruk dapat disingkirkan oleh Prabu Baladewa dan Prabu Kresna palsu, sehingga lari ke hutan. 
Di Tengah hutan Petruk bertemu dengan Gandarwa Maya dan dirias menjadi Duryudana, Gareng menjadi Durna, dan Bagong menjadi Sengkuni menuju Astina. Sementara Dewaningrat telah berhasil membawa Kalimasada diserahkan kepada Duryudana palsu, dan akhirnya berubah jadi Petruk. 
Peperangan terjadi saling memperebutkan kalimasada akhirnya Petruk berhasil membawa Jamus Kalimasada ke Karangkadempel untuk sarana Semar membangun Gedong Kencana.

Ditengah-tengah cerita, sang Dalang menghadirkan salah satu pelawak kondang yang berasal dari Kabupaten Rembang. Adalah Ki JOLANG yang namanya sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat. Ki Jolang berhasil mencairkan suasana dan membuat gelak tawa diantara penonton yang menambah semarak suasana pada malam hari itu. Penontonpun terlihat sangat antusias dan bahagia menikmati pagelaran wayang yang diselingi dengan lawakan pada malam itu.


Acara berakhir sekira pukul 04.00 WIB pagi dan penonton pun membubarkan diri dengan tertib untuk kembali ke rumah masing-masing. (agus_sung)

artikel bersumber dari
https://wayangku.id/lakon-pewayangan-sri-sadana-makahyangan-jalan/   

http://tarikhislamicwayangkomputer.blogspot.com/2017/08/lakon-tentang-punakawan-semar-mbangun_27.html



Kategori

Bagikan :

comments powered by Disqus